“Hidup bermartabat jika bisa menjadi keluarga yang bahagia dan bisa menyekolahkan, mendidik anak-anak menjadi anak yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa”, begitu Siti Solihat menuliskan pendapatnya pada metaplan berwarna merah muda.

Pada metaplan berwarna kuning, Kiki juga menulis bagaimana sejahtera menurutnya,“hidup bermartabat jika menjadi seorang ibu dan istri yang baik untuk keluarga dan menjadi seorang ibu yang dapat mengayomi saudara dan masyarakat”.

Kelas belajar ketiga perempuan di Kulik Sialang adalah tentang Pengorganisasian dan Kepemimpinan Perempuan. Pertanyaan bagaimana konsep sejahtera?, hidup sejahtera bila? Dan hambatan perempuan dapat sejahtera? Adalah pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dijawab peserta kelas belajar.

Namun sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mereka dibagi secara berkelompok dan diberikan tugas untuk menyelesaikan satu garis petunjuk yang diberikan fasilitator  menjadi gambar perempuan dan laki-laki. Masing-masing orang meneruskan garis dengan menambah satu saja garis, ini dilakukan secara estafet.

        

Gambar yang mereka buat ini menjadi dasar penjelasan bahwa perbedaan perempuan dan laki-laki pada dasarnya hanya pada beberapa fungsi biologis anggota tubuh, yang menjadikan perempuan istimewa. “menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui dan monopous” adalah keistimewaan tersebut, sesuatu hal yang kodrati. Gambar itu menjelaskan mana yang kodrati, apa yang merupakan hasil konstruksi sosial dan apa yang di stigma kan pada perempuan.

Kemudian mereka sadar dan bersepakat bahwa perempuan layak dan sudah semestinya menjadi bagian dari diskusi-diskusi strategis desa dan perempuan memimpin adalah sebuah keniscayaan.

Hujan deras yang mengguyur dusun Kulik Sialang, siang itu, Kamis, 18 Februari 2020, seolah hanyut suaranya dengan tawa canda mereka. Suasana khas kelas belajar perempuan.

Kembali mengisi metaplan kuning, hijau dan merah muda, mereka menuliskan apa yang menjadi hambatan perempuan dapat sejahtera dan bermartabat. Ketidakpastian harga yang bergantung pada dinamika pasar, kebutuhan hidup yang terus meningkat, akses pada lahan yang jauh, konflik agraria yang dihadapi dengan perusahaan PT. Ciptamas Bumi Selaras (PT.CBS) dan pembagian kerja yang masih belum adil di rumah tangga dan kebun.

Seperti yang dituliskan oleh Mimin “hambatan untuk mencapai sejahterah adalah kemarau yang panjang, harga kopi murah dan harga pupuk mahal.”

Sedangkan Neneng menuliskan sedikit lebih kompleks, “hambatan untuk mecapai sejahterah adalah karena keberadaan lahan yang jauh dari rumah dan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan sendiri. Daya jual sangat murah sedangkan semua kebutuhan mahal”.

Kelas belajar pengorganisasian dan kepemimpinan perempuan yang difasilitasi oleh Meike Ida Erlina sebagai Meneger Pengkampanye Hak-Hak Perempuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) ini kemudian membawa peserta pada satu kesimpulan, bahwa untuk mewujudkan kesejahteraan seperti yang mereka fikirkan, mereka sudah harus mulai mengambil peran pada ruang-ruang strategis di desa, mengisi ruang tersebut dengan pengetahuan yang mereka miliki dalam mengelola sumber-sumber penghidupan, serta mulai membangun sistem pembagian kerja yang adil baik di dalam keluarga maupun kerja di kebun.